Lanjut ke konten

Sebelum Lampu Kota Padam

“Jauh dari keluarga seperti ini, kira-kira worth it nggak ya buat dipertahankan demi sesuap nasi?” gumamku pelan di dalam hati.

Tak terasa, sudah lima tahun aku hidup di perantauan. Aku yang dulu datang tanpa bekal apapun, mencoba bertahan sendirian di tengah hiruk pikuk Jakarta yang tak pernah benar-benar tidur.

Masih teringat jelas di kepalaku malam sebelum keberangkatan itu. Bapak mondar-mandir dari satu rumah ke rumah lain, menahan malu demi meminjam sedikit uang agar anak perempuan pertamanya bisa berangkat mengadu nasib di kota orang.

Waktu itu aku baru sadar, ternyata cinta seorang Bapak sering kali tidak terdengar karena ia memilih diam sambil memikul semuanya sendiri.

“Kalau dipikir-pikir, Bapak benar-benar berjuang saat itu untuk kehidupan anak perempuan pertamanya ini.”

“Rasanya aku capek sekali, loh. Ingin rasanya menyerah, tapi aku merasa sia-sia sudah sejauh ini.”

Tak terasa, perjalanan panjang menuju kos akhirnya hampir sampai. Jalanan ibu kota mulai lengang. Lampu-lampu toko satu per satu dipadamkan, menyisakan cahaya redup dari warung kecil di ujung gang dan suara kendaraan yang sesekali melintas.

Aku menurunkan kepala, memijat pelan pundakku sendiri yang terasa berat entah karena tas bawaan atau hidup yang akhir-akhir ini terlalu banyak menuntut kuat.

Sesampainya di depan kos, aku duduk sebentar di bangku kayu dekat tangga. Tidak langsung masuk. Tidak juga menangis. Aku hanya diam memandangi langit Jakarta yang nyaris tak pernah memperlihatkan bintang.

Lalu ponselku bergetar.

“Udah makan belum, Nak???”
Pesan dari Bapak masuk, tanpa tanda baca yang rapi seperti biasanya.

Aku tersenyum kecil.

Di kampung, mungkin Bapak baru saja selesai ronda malam. Bisa saja baru pulang dari sawah sambil menahan pegal di lututnya yang tak pernah benar-benar sembuh.

Jari-jariku sempat berhenti di atas layar. Ada begitu banyak hal yang ingin kuceritakan tentang pekerjaan yang makin berat, tentang tubuh yang makin sering sakit, tentang bagaimana kerasnya kota ini perlahan mengubahku menjadi seseorang yang bahkan tak sempat menangisi dirinya sendiri.

Tapi pada akhirnya aku hanya membalas,

“Udah, Pak. Di sini aku baik-baik aja.”

Padahal aku tahu, kalimat itu adalah kebohongan paling sering diucapkan anak perantauan.

Malam semakin larut. Jakarta tetap ramai meski sebagian lampu kota mulai padam. Seperti biasanya, aku kembali belajar bahwa menjadi dewasa berarti tetap berjalan meski hati sudah ingin berhenti sejak lama.

Sebab di rumah, ada orang-orang yang menggantungkan harapan pada pundakku.

Sebelum lampu kota benar-benar padam malam itu, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bertahan satu hari lagi. Hanya satu hari lagi. Lalu satu hari berikutnya. Hingga tanpa sadar, luka-luka itu berubah menjadi alasan kenapa aku harus terus hidup.


© Perasa Puan

  • Berlangganan Langganan
    • Perasa Puan
    • Sudah punya akun WordPress.com? Login sekarang.
    • Perasa Puan
    • Berlangganan Langganan
    • Daftar
    • Masuk
    • Salin shortlink
    • Laporkan isi ini
    • Lihat pos di Pembaca
    • Kelola langganan
    • Ciutkan bilah ini